Oleh: praharsa | 31 Agustus 2009

Sabar

“Hai orang-orang yang beriman, Bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.” (QS.Ali Imran [3] : 200).

Sabar, secara etimologi berarti menahan dan mencegah (al-habsu wal kaffu). Secara terminologi, sabar adalah menahan diri untuk melakukan keinginan dan meninggalkan larangan Allah SWT, sabar juga berarti sikap tegar dan kukuh dalam menjalankan ajaran Islam ketika muncul dorongan nafsu, ketegaran yang dibangun diatas landasan Al-Quran dan As-sunnah.

Sabar dapat juga berarti puncak sesuatu, orang yang memiliki kesabaran, akan sampai pada puncak kemuliaan. Allah telah memuji orang-orang yang bersabar dan menyebutkan mereka dalam firman-Nya: “Hanya orang-orang yang bersabar akan diberi pahala mereka yang tidak terbatas.” (QS Az-Zumar: 10).

Rasulullah SAW mengajarkan sifat sabar dengan meninggalkan sifat mengeluh. Dalam hadis qudsi, Allah SWT berfirman: “Apabila Aku hadapkan suatu cobaan kepada seorang hamba dari hamba-Ku pada badannya, atau pada anaknya, atau pada hartanya, lalu ia menghadapinya dengan penuh kesabaran, Aku merasa malu menegakkan timbangan (mizan) maupun membuka catatan amalnya pada hari kiamat.”(HR Hakim).

Dalam hadis lain Rasulullah SAW bersabda: “Kesabaran adalah salah satu dari perbendaharaan surga”, dan ketika ditanya mengenai keimanan, Nabi bersabda: ”Keimanan itu adalah kesabaran dan kemurahan.”

Ali bin Abi thalib mengatakan: ingatlah, sungguh tidak ada iman bagi orang yang tidak memiliki sabar. Karena itulah, Syekh Abu Nashr mengungkapkan bahwa spiritual sabar adalah kedudukan spiritual mulia. Sementara al Junaid menjelaskan bahwa sabar adalah memikul semua beban berat sampai habis saat-saat yang tidak diinginkan. Kedudukan seseorang ditentukan oleh kualitas kesabarannya.Innallaha ma’ashobirin (Sesungguhnya Allah itu dekat amat dekat dengan orang yang sabar). Bahkan, jadikanlah sabar dan salat sebagai penolong.

Ibnu salim menjelaskan bahwa ada tingkatan orang yang sabar, yaitu: pertama mutashabir (orang yang berusaha untuk bersabar), kedua shabir (orang yang sabar), ketiga shabhar (orang yang sangat bersabar). Orang yang sangat bersabar adalah mereka yang kesabarannya demi Allah, karena Allah dan dengan Allah.

Seluruh cobaan yang menimpanya dari segi kewajiban dan hakikat tidak akan melemahkannya, namun ia tetap kuat menghadapinya, sekalipun dari segi bentuk dan rupa akan berubah. Ketidaksabaran timbul ketika kita salah dalam memandang makhluk, mungkin kita memandang makhluk sebagai sumber penyebab segala seuatu.

Padahal, makhluk hanya menjalani kehidupan. Kalau kita hanya memfokuskan kepada makhluk, maka kualitas kesabaran yang kita miliki akan semakin berkurang. Lain halnya jika kita memandang bahwa Allah-lah yang menguasai setiap kejadian. Sehingga kesabaran kita akan semakin meningkat.

Ibnu Mas’ud mengisahkan bahwa ketika beliau sedang salat bersama Rasulullah SAW di masjid, tiba-tiba Abu Jahal berkata: ”Kiranya ada seorang yang berani mengambil kotoran unta bani fulan lalu melemparkannya kepada Muhammad ketika sujud.”

Lalu bangkitlah Uqbah bin Abu Mu’ayath datang membawa kotoran dan melemparkannya ke Nabi SAW saat sujud. Tidak ada seorangpun yang membela Nabi SAW karena saat itu kaum muslimin dalam keadaan yang sangat lemah. Nabi SAW tetap dalam sujudnya sampai datang Fatimah ra, puteri beliau, kemudian melemparkan kotoran itu.

Syekh Yusuf al-Qaradhawi membagi sabar dalam 6 kategori, yaitu : 1) sabar menerima ujian hidup (QS Al-Baqarah [2] : 155-157); 2) sabar dari keinginan hawa nafsu (QS Al-Munafiqun 9); 3) sabar dalam taat kepada Allah SWT (QS Maryam : 65); 4) sabar dalam berdakwah (QS Lukman : 17); 5) sabar dalam perang (QS.AL-Baqarah [2] : 177); 6) sabar dalam pergaulan (QS An-Nisa :19).

Lalu bagaimana cara untuk meraih kesabaran ? Para ulama memberikan beberapa kiat untuk meraih kesabaran, yaitu antara lain: Pertama, mengenali tabiat kehidupan dunia dengan segala kesulitannya. Penderitaan dan ujian adalah bagian dari tabiat dunia ini (QS An-Nahl [16] : 53). Kedua, mengenal balasan dan pahala sabar. Sabar pahalanya tanpa ada perhitungan (pahala tanpa batas) (QS.Az-Zumar [39] : 10).

Ketiga, percaya dan yakin bahwa setiap permasalahan ada solusinya, Allah SWT menjadikan setiap kesulitan, jalan keluar sebagai bentuk rahmat-Nya (QS Al-Insyirah [94] : 5-6). Keempat, meminta pertolongan kepada Allah dan kembali kepada perlindungan-Nya dengan bertawakal kepada-Nya (QS An-Nahl [16]: 42). Kelima, beriman dan menyakini takdir Allah SWT (QS Al-Hadid [57] : 22). Semoga Allah SWT menganugerahkan kepada kita hati yang lapang dan kesabaran.

Oleh: praharsa | 31 Agustus 2009

detikcom : Anak Kurus Lebih Pintar!

title : Anak Kurus Lebih Pintar!
summary : Anda memiliki anak yang kurus? Jangan khawatir, mungkin bentuk tubuh anak itu akibat otaknya yang cerdas. Sebuah penelitian mengungkapkannya. (read more)

Oleh: praharsa | 31 Agustus 2009

detikcom : Bercinta Bisa Bikin Umur Lebih Panjang

title : Bercinta Bisa Bikin Umur Lebih Panjang
summary : Dalam kehidupan sehari-hari, seks merupakan kegiatan yang menyenangkan bila dilakukan dengan pasangan. Ternyata dibalik kenikmatan yang dirasakan ada manfaat yang tidak disangka. (read more)

Oleh: praharsa | 31 Agustus 2009

detikcom : Banyak Situs Sesatkan Informasi Islam

title : Banyak Situs Sesatkan Informasi Islam
summary : Ada jutaan situs tentang Islam di internet. Celakanya, walaupun situs-situs tersebut menggunakan nama yang Islami, ternyata banyak juga yang isinya justru menyesatkan. (read more)

title : Mashed Potatoes, si Lembut Pengelus Lidah
summary : Kentang yang dipenyet sampai lembut ini tampangnya mirip bubur bayi. Namun, jangan ditanya rasanya, lembut dan gurih. Kentang ini biasa disandingkan dengan steak atau sajian BBQ. Apa rahasia kelembutannya? (read more)

Oleh: praharsa | 4 Mei 2009

Mengintip Password Komputer Boss

Seorang office boy (OB) suatu hari sedang membersihkan lantai di belakang kursi Direktur. Saat itu sang direktur sedang duduk di kursinya mengerjakan sesuatu yang kelihatan sangat penting di depan komputernya. Saking sibuknya sang direktur berkonsentrasi ke komputer, ia tidak menyadari si office boy mengintip dari pundaknya apa yang sedang ia kerjakan. Beberapa menit kemudian, di ruang office boy, ia mengatakan kepada rekannya yang lain, bahwa ia tadi sempat mengintip sang boss mengetikkan password-nya! Ia melihat huruf demi huruf! Ia pun tegang karena mungkin merupakan satu-satunya yang tahu password orang nomor satu di perusahaan itu! Kabar angin pun beredar beberapa hari kemudian, dan seorang staf IT yang ingin masuk lewat jaringan ke komputer sang boss untuk mengetahui rahasia perusahaan terutama rahasia boss, mendekati si office boy. “Saya akan bayar berapa untuk password itu?” tanya si staf IT. Sang office boy dengan gugup menjawab, “Dua ratus ribu!” “Kemahalan! Seratus ribu,” staf IT berargumen sambil langsung menyodorkan uang seratus ribu. Oke si office boy pun setuju. Setelah memberikan uangnya, si staf IT menyiapkan pensil untuk mencatat di secarik kertas. “Oke, apa passwordnya?” “Bintang, bintang, bintang, bintang, bintang, bintang!” jawab sang office boy sambil berbisik. “Passwordnya ternyata hanya enam bintang!”

Oleh: praharsa | 4 Mei 2009

Tuhan Menangis

Ada sebuah cerita dari Gus Dur :

Pada suatu ketika, menghadaplah 3 Presiden kepada Tuhan.

Yang mendapat nomer antrian pertama adalah Presiden USA

Presiden USA : Ya Tuhan..kapankah negara yang aku pimpin akan makmur?

Tuhan : 20 tahun lagi.

Presiden USA : (menangis sambil meninggalkan Tuhan)

Sekarang giliran Presiden Perancis menghadap Tuhan.

Presiden Perancis : Ya Tuhan..kapankah negara yang aku pimpin akan sejahtera?

Tuhan : 25 tahun lagi.

Presiden Perancis : (menangis sambil meninggalkan Tuhan)

Terakhir giliran Presiden Indonesia menghadap Tuhan dengan berharap jawaban yang menggembirakan.

Presiden Indonesia : Ya Tuhan..kapankah negara & rakyat yang aku pimpin akan makmur & sejahtera.

Tuhan : (menangis sambil meninggalkan Presiden Indonesia)

Oleh: praharsa | 4 Mei 2009

Pejabat terkorup di dunia

Pangeran Charles datang ke Indonesia, ia mengeritik bahwa pejabat di Indonesia memang pejabat negara yang korup. Tentu saja ini membuat berang anggota DPR. Dalam suatu kesempatan seorang anggota DPR ingin membalasnya dengan datang ke Inggris dan menunjukkan bahwa di Inggris pun ada pejabat instansi yang korup. Maka ia berfoto di depan instansi itu dan hasilnya diberikan ke Pangeran Charles. Dalam suratnya ditulis, ” Yang Mulia, ternyata instansi di belakang saya ini adalah instansi terkorup di negara anda.” Pangeran Charles tersenyum karena instansi itu adalah “Indonesian Embassy.”

Oleh: praharsa | 3 Mei 2009

Saudah Binti Zam’ah RA.

Beliau adalah Saudah binti Zam’ah bin Qais bin Abdi Syams bin Abud Al-Quraisyiyah Al-Amiriyyah. Ibunya bernama Asy-Syamus binti Qais bin Zaid bin Amru dari bani Najjar. Beliau juga seorang Sayyidah yang mulia dan terhormat. Sebelumnya pernah menikah dengan As-Sakar bin Amru saudara dari Suhair bin Amru Al-Amiri. Suatu ketika beliau bersama delapan orang dari bani Amir hijrah meninggalkan kampung halaman dan hartanya, kemudian menyebrangi dahsyatnya lautan karena ridha menghadapi maut dalalm rangka memenangkan diennya. Semakin bertambah siksaan dan intimidasi yang mereka karena mereka menolak kesesatan dan kesyirikan. Hampir-hampir tiada hentinya ujian menimpa Saudah belum usai ujian tinggal dinegeri asing (Habsyah) beliau harus kehilangan suami beliau sang muhajirin. Maka beliaupun menghadapi ujian menjadi seorang janda disamping juga ujian dinegeri asing.

Rasulullah Shallallaahu ’alaihi wa sallam menaruh perhatian yang istimewa terhadap wanita muhajirah yang beriman dan telah menjanda tersebut. Oleh karena itu tiada henti-hentinya Khaulah binti Hakim as-Salimah menawarkan Saudah untuk beliau hingga pada gilirannya beliau mengulurkan tangannya yang penuh rahmat untuk Saudah dan beliau mendampinginya dan membantunya menghadapi kerasnya kehidupan. Apalagi umurnya telah mendekati usia senja sehingga membutuhkan seseorang yang dapat menjaga dan mendampinginya.

Telah tercatat dalam sejarah tak seorangpun sahabat yang berani mengajukan masukan kepada Rasulullah Shallallaahu ’alaihi wa sallam tentang pernikahan beliau setelah wafatnya Ummul Mukminin ath-Thahirah yang telah mengimani beliau disaat menusia mengkufurinya dan menyerahkan seluruh hartanya disaat orang lain menahan berntuan terhadapnya dan bersamanya pula Allah mengkaruniakan kepada Rasul putra-putri.

Akan tetapi hampir-hampir kesusahan menjadi berkepanjangan hingga Khaulah binti Hakim memberanikan diri mengusulkan kepada Rasulullah dengan cara yang lembut dan ramah:
Khaulah :Tidakkah anda ingin menikah ya Rasulullah?
Nabi : dengan siapa saya akan menikah. Setelah dengan Khadijah?
Khaulah :jika anda ingin bisa dengan seorang gadis dan bisa pula dengan seorang janda.
Nabi : jika dengan seorang gadis, siapakah gadis tersebut?
Khaulah : Putri dari orang yang anda cintai yakni Aisyah binti Abu Bakar.
Nabi : jika dengan seorang janda?
Khaulah : Dia adalah Saudah binti Zam’ah, seorang wanita yang telah beriman kepada anda dan mengikuti yang anda bawa.

Beliau menginginkan Aisyah akan tetapi terlebih dahulu beliau nikahi Saudah binti Zam’ah yang mana dia menjadi satu-satunya isteri (beliau (setelah wafatnya Khadijah) selama tiga tahun atau lebih baru kemudian masuklah Aisyah dalam rumah tangga Rasulullah Shallallaahu ’alaihi wa sallam. Orang-orang di Makkah merasa heran terhadap pernikahan Nabi dengan Saudah binti Zam’ah. Mereka bertanya-tanya seolah-olah tidak percaya dengan kejadian tersebut, seorang janda yang telah lanjut usia dan tidak begitu cantik menggantikan posisi Sayyidah wanita Quraisy dan hal itu menarik perhatian bagi para pembesar-pembesar diantara mereka.

Akan tetapi kenyataan membuktikan bahwa sesungguhnya Saudah atau yang lain tidak dapat menggantikan posisi Khadijah, akan tetapi hal itu adalah, kasih sayang dan penghibur hati adalah menjadi rahmat bagi beliau Shallallaahu ’alaihi wa sallam yang penuh kasih.

Adapun Saudah radhiallaahu ’anha mampu untuk menunaikan kewajiban dalam rumah tangga Nubuwwah dan melayani putri-putri Nabi Shallallaahu ’alaihi wa sallam dan mendatangkan kebahagiaan dan kegembiraan di hati Nabi Shallallaahu ’alaihi wa sallam dengan ringannya ruhnya dan sifat periangnya dan ketidaksukaannya terhadap beratnya badan.

Setelah tiga tahun rumah tangga tersebut berjalan maka masuklah Aisyah dalam rumah tangga Nubuwwah, disusul kemudian istri-istri yang lain seperti Hafsah, Zainab, Ummu Salamah dan lain-lain. Saudah radhiallaahu ’anha menyadari bahwa Nabi Shallallaahu ’alaihi wa sallam tidak mengawininya dirinya melainkan karena kasihan melihat kondisinya setelah kepergian suaminya yang lama. Dan bagi beliau hal itu telah jelas dan nyata tatkala Nabi Shallallaahu ’alaihi wa sallam ingin menceraikan beliau dengan cara yang baik untuk memberi kebebasan kepadanya, namun Nabi nerasa bahwa hal itu akan menyakiti hatinya.Tatkala Nabi mengutarakan keinginannya untuk menceraikan beliau, maka beliau merasa seolah-olah itu adalah mimpi buruk yang menyesakkan dadanya, maka beliau merengek dengan merendahkan diri berkata: “pertahankanlah aku ya Rasulullah! Demi Allah tiadalah keinginanku diperistri itu karena ketamakan saya akan tetapi hanya berharap agar Allah membangkitkan aku pada hari kiamat dalam keadaan menjadi Istrimu.

Begitulah Saudah radhiallaahu ’anha lebih mendahulukan keridhaan suaminya yang mulia, maka beliau berikan giliran beliau kepada Aisyah untuk menjaga hati Rasulullah Shallallaahu ’alaihi wa sallam dan beliau radhiallaahu ’anha sudah tidak memiliki keinginan sebagaimana layaknya wanita lain.

Maka Rasulullah menerima usulan istrinya yang memiliki perasaan yang halus tersebut, maka turunlah ayat Allah:

“Maka tidak mengapa bagi keduanya mengadakan perdamaian dan sebenarnya perdamaian itu lebih baik (bagi keduanya).”(An-Nisa’:128).

Saudah radhiallaahu ’anha tinggal dirumah tangga nubuwwah dengan penuh keridhaan dan ketenangan dan bersyukur kepada Allah yang telah menempatkan posisinya disamping sabaik-baik makhluk di dunia dan dia bersyukur kepada Allah karena mendapat gelar ummul mukminin dan menjadi istri Rasul di jannah. Akhirnya wafatlah Saudah radhiallaahu ’anha pada akhir pemerintahan Umar bin Khattab radhiallaahu ’anha.

Ummul mukminin Aisyah radhiallaahu ’anha senantiasa mengenang dan mengingat perilaku beliau dan terkesan akan keindahan kesetiaannya. Aisyah berkata: “Tiada seorang wanitapun yang paling aku sukai agar aku memiliki sifat seperti dia melebihi Saudah binti Zam’ah tatkala berusia senja yang mana dia berkata: “Ya Rasulullah aku hadiahkan kunjungan anda kepadaku untuk Aisyah, hanya saja beliau berwatak keras”.

Tulisan Sebelumnya »

Kategori